Penggunaan Tanda Baca: Titik, Koma, Titik Dua, dan Titik Koma
Penggunaan Tanda Baca – Tanda baca merupakan unsur
yang penting dalam bahasa tulis. Tanda baca dapat membantu pembaca bisa
memahami jalan pikiran sang penulisnya. Bisa dibayangkan bertapa
sulitnya kita dalam memahami suatu tulisan yang tidak dilengkapi dengan
tanda baca sama sekali.
Pada ejaan yang disempurnakan, semua tanda baca telah diatur. Tetapi
sangat disayangkan penggunaan tanda baca di kalangan pengguna bahasa
sendiri belum tertib. Mungkin kamu sendiri seringkali menemui pemakaian
tanda baca yang tidak tepat dan tidak sesuai dengan kaidah Bahasa
Indonesia yang berlaku.
Sebagai contoh, masih sangat banyak tulisan-tulisan dapat kita jumpai
saat ini penggunaan tanda baca koma (,) sebelum kata jika atau
walaupun. Sebaliknya, sering kita menjumpai tanda koma tidak ada sebelum
kata yaitu atau yakni. Apalagi penggunaan tanda titik dua (:) masih
sangat kacau pada tulisan-tulisan yang beredar.
Kaidah pemakaian tanda baca pada sistem ejaan kita mencakup
penggunaan tanda baca titik, tanda koma, tanda titik koma, tanda titik
dua, tanda hubung, tanda pisah, tanda elipsis, tanda tanya, tanda seru,
tanda kurung, tanda kurung siku, tanda petik, tanda petik tunggal, tanda
ulang, tanda garis miring, dan tanda apostrof (penyingkat).

Penggunaan Tanda Baca Titik (.)
1) Tanda titik digunakan di akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.Contoh:
Dora sedang membaca koran di taman.
Nenek sedang duduk.
2) Penggunaan tanda baca titik untuk menunjukkan angka, jam, menit, dan detik sebagai penanda waktu.
Contoh:
Tepat pukul 14.34.30 (pukul 14 lewat 34 menit 30 detik) kereta api jurusan Jakarta-Bandung akan diberangkatkan.
3) Tanda titik digunakan di antara nama penulis , judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, serta tempat terbit pada daftar pustaka.
Contoh:
Bahtiar, Akmal. 2017. Senja di Pantai Losari. Makassar: Balai Pustaka.
4) Tanda titik digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan dan kelipatannya.
Contoh:
Desa Ngadirejo memiliki penduduk 34.100 orang.
Gempa bumi yang terjadi dua hari yang lalu menewaskan 1.411 jiwa.
5) Tanda titik tidak digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Contoh:
Lihat di buku itu pada halaman 3217.
Nomor gironya 87953.
Dia lahir pada tahun 1994 di Makassar.
Penggunaan Tanda Koma (,)
1) Penggunaan tanda baca koma (,) di antara unsur-unsur pada suatu pembilangan atau perinciannya.Contoh:
- Bunda membeli ikan, sayur, dan minyak di pasar.
- Surat kilat, surat biasa, atau surat khusus perlu perangko.
Contoh:
- Kalau hari ini hujan, dia tidak akan datang.
- Karena kesibukan, dia bahkan lupa dengan janji terhadap sahabatnya.
Contoh:
- Jadi, kita harus tetap waspada dengan keberadaannya.
- Oleh karena itu, persoalannya kini menjadi rumit.
Contoh:
- Kata ayah, “Kamu luar biasa nak, hebat.”
- “Saya senang sekali,” kata ibu, “karena kamu berbuat baik kepada temanmu.”
Contoh:
- Ny. Khadijah, M.A.
- B. Ratu Sugi, S.E.
Penggunaan Tanda Baca Titik Dua (:)
1) Tanda titik dua tidak dapat digunakan pada akhir suatu kalimat pernyataan lengkap, kalau diikuti rangkaian atau pemerian.Contoh:
- Saat ini kita memerlukan prabot rumah tangga: lemari, kursi, dan meja.
- Hanya ada dua pilihan bagi para pahlawan pejuang kemerdekaan: hidup atau mati.
Contohnya:
Ketua : Akmal Bahtiar
Sekretaris : Nurul Hikmah Astuti
Bendahara : Astriani
3) Tanda titik dua bisa digunakan pada teks drama setelah kata yang menunjukkan pelaku pada percakapan.
Contoh:
Vivi : (sambil meletakkan beberapa potong kue), “Bawa ini ke kampus, Gi!”
Gina : “Sip, Vi.” (mengangkat kardus yang berisi kue lalu berangkat)
Arni : “Ingat ya, letakkan dengan hati-hati!” (duduk di kursi sambil memperbaiki make up)
Penggunaan Tanda Titik Koma (;)
1) Tanda titik koma bisa digunakan dalam memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.Contoh:
Malam semakin larut saja; tugas belum juga selesai.
2) Penggunaan tanda baca titik koma sebagai pengganti kata penghubung dalam memisahkan kalimat yang setara pada kalimat majemuk.
Contoh:
Ibu sibuk memasak di dapur; Ayah mengurus ayam jagonya di belakang rumah; Adik sibuk menggambar; aku sendiri asyik menonton siaran langsung pertandingan sepak bola.
Penggunaan Huruf Kapital atau Huruf Besar
1) Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama pada awal kalimat.Contohnya:
- Ayah pergi ke sawah.
- Simpanlah buku itu!
- Apa maksud pertanyaan tersebut?
Contoh:
- Adik bertanya, “Kapan ayah pulang?”
- “Dua hari yang lalu kamu juga terlambat,” katanya.
Contoh:
- Yang Maha Kuasa
- Yang Maha Esa
- Umat Islam sedang merayakan hari kemenangan.
Misal:
- Haji Abdul Hamid adalah imam besar di desa kami.
- Beliau bernama Raden Mangku Alam.
- Nabi Ibrahim adalah ayah Nabi Ismail.
Contoh:
- Wakil Presiden Jusuf Kalla sedang melakukan perjalanan ke luar negeri.
- Profesor Bahtiar Akmal adalah seorang ahli bahasa.
- Perdana Menteri Inggris mengadakan hubungan bilateral dengan pemerintah Indonesia.
Contoh:
- Amir Hamzah termasuk angkatan Pujangga Bar.
- Acara itu dimeriahkan dengan penampilan Glen Fredly.
- Dewi Sartika adalah pahlawan perempuan dari Jawa Barat.
Contoh:
- Teguh berasal dari suku Badui.
- Malik sedang kursus Bahasa Inggris.
- Bangsa Indonesia mempunyai hubungan bilateral dengan negara Singapura.
Contoh:
- Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1954.
- Setelah satu bulan penuh berpuasa, umat Islam merayakan Idul Fitri.
- Tahun Hijriyah dan tahun Masehi perhitungannya sangat berbeda.
Contoh:
- Indonesia termasuk salah satu negara di kawasan Asia Tenggara.
- Ali Namimah sedang berlibur di Bandung.
- Jakarta terkenal sebagai pusat mall.

***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar